Pengalaman Menghafal AL-Qur’an, Ust.Yusuf Mansyur

Bismillahirrahmaanirrahiim,
Semoga Allah meluruskan hati saya ketika bercerita tentang pengalaman saya menghafal AlQuran. Semoga tidak dicatat sebagai riya dan sum’ah.
Awal mula saya ingin menghafal AlQuran adalah ketika saya masuk SMU Unggulan Darul Ulum 2-BPPT Jombang, Jawa Timur pada tahun 2001. Sekolah yang berada di bawah Pesantren Darul Ulum Jombang, pimpinan Alm.K.H. As’ad Umar.
Ada dua hal ketika itu yang memotivasi saya untuk menghafal AlQuran. Yang pertama adalah, saya ingin membahagiakan orang tua. Ya, ketika itu saya termotivasi oleh hadits Nabi, bahwa kelak pada hari kiamat, orang tua akan dipakaikan mahkota kemuliaan, jika anaknya terus berinteraksi memepelajari AlQuran, dan tentunya tidak ada interaksi yang lebih intens dengan AlQuran kecuali dengan menghafalnya. Banyak juga hadits lain yang memotivasi saya untuk menghafal AlQuran.
Hal kedua adalah, saya merasa banyak menghabiskan waktu dan perhatian untuk membaca buku pelajaran ketika itu. Saya berfikir, kalo terhadap buku hasil karangan manusia aja segitu perhatiannya, kenapa saya tidak meluangkan waktu dan perhatian yang ekstra untuk buku karangan Allah. Kalam Tuhan. Pedoman hidup. Sumber segala ilmu. Ketika itu rasa keingintahuan saya terhadap AlQuran sangat tinggi. Sehingga saya memulai menghafal sekaligus mentadabburi AlQuran. Ketika itu saya menggunakan mushaf AlQuran terjemahan versi Depag. Yang besar, warna merah, dalam satu halaman, ayat alquran sebelah kanan,dan artinya ada di sebelah kiri. Pada saat itu, bacaan AlQuran saya sudah fasih, karena memang, sejak kecil, di kampung halaman saya di Singaparna, Tasikmalaya, saya dididik di lingkungan pesantren
Saya memulai menghafalkan dan mentadabburi AlQuran secara otodidak, tanpa guru. Saya biasanya mencuri waktu pagi-pagi setelah solat subuh berjamaah hingga menjelang jam 6 pagi untuk menambah hafalan baru. Karena kegiatan yang sangat padat, di sekolah mulai jam 7 sampai 4 sore, lalu pengajian kitab kuning dengan materi tafsir, hadits, dll di masjid atau di rumah kiyai mulai ba’da magrib sampai jam 9 malam. Saya biasanya baru bisa mengulang hafalan sekitar jam 10 malam.
Kegiatan menghafal dan tadabbur itu terus berlanjut. Saya merasakan bahwa Allah sepenuhnya membimbing saya dalam menemukan metode menghafal. Saya rasa, menghafal dengan mengetahui arti dan makna akan menguatkan hafalan, terutama ketika merangkai ayat satu dengan yang lainya. Beberapa rangkaian ayat membentuk satu cerita, atau satu tema.
Proses tersebut saya lakukan secara rutin setiap hari, saya memulai dari juz 1, sehingga setelah sekitar dua tahun, saya bisa menyelesaikan hafalan dan tadabbur saya. Walaupun ketika itu saya belum menyetorkan hafalan kepada siapapun. Saya hanya muraja’ah sendirian. Karena memang pada waktu itu, di pesantren belum ada program tahfiz nya.
Pada 2004, saya pindah ke Bandung, untuk kuliah di Teknik Elektro ITB. Alhamdulillah, di Bandung, saya bisa bertemu dengan beberapa orang hafidz. Kemudian saya baru menyetorkan hafalan saya, yang saya peroleh dari Jombang secara otodidak ke Ustadz Sucipto dan beberapa ustadz lainnya di MAQDIS (Ma’had AlQuran dan Dirasah Islamiyah, sekarang telah berganti nama), sebuah lembaga di bawah pimpinan Ust. Saiful Islam Mubarak. Di MAQDIS, saya menyetorkan hafalan sebanyak dua juz setiap pekan. Sabtu satu juz, dan ahad satu juz. Sehingga dalam waktu sekitar empat bulan, saya telah selesai menyetorkan 30 juz hafalan saya. Selain itu, saya juga mengikuti halaqah-halaqah tahfidz AlQuran di beberapa masjid di Bandung.
Untuk menjaga hafalan, saya biasa melakukan muraja’ah tsunaiyah, mengimami qiyamullail ramadhan, juga sering melakukan tasmi’ , baik di masjid ketika ada acara gathering huffadz ataupun di rumah. Saya biasa memperdengarkan hafalan saya ke kedua orang tua saya. Dan setelah saya menikah pada 2010, saya juga biasa memperdengarkan hafalan saya ke ibu dan bapak mertua saya, termasuk kepada istri tentunya. Biasanya tiap kali tasmi’ minimal satu juz, Cuma membutuhkan waktu sekitar setengah jam-an. Semoga Allah menjadikan keluarga besar kami para pecinta AlQuran.
Setelah saya lulus S1 dan S2 dari ITB, Alhamdulillah, Allah menitipkan amanah kepada saya untuk kuliah S3 di University of Groningen (Rijksuniversiteit Groningen), Belanda sejak 2012. Di Groningen, Alhamdulillah saya juga menemukan beberapa hafidz Quran, di antaranya adalah imam mesjid komunitas Turki, Imam masjid Islamistich Centrum Groningen, dan beberapa orang Belanda keturunan Somalia. Saya pun memulai untuk menyetorkan hafalan saya satu juz tiap pekan . Alhamdulillah ternyata AlQuran benar-benar dijaga di seluruh belahan bumi.
Semoga Allah membimbing saya untuk mampu mendakwahkan AlQuran di belahan bumi manapun
Mungkin cukup itu saja cerita pengalaman saya. Mohon do’a tadz supaya saya dimudahkan menuntut ilmu, dan menjadi ilmuwan muslim yang berprestasi di hadapan Allah.
Semoga kita semua menjadi Ahlul Quran, keluarga Allah dari kalangan manusia.

Sumber : http://yusufmansur.com/pengalaman-menghafal-quran/

Loading

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *